Aktris Julia Roberts meraih Academy Awards pada tahun 2001 melalui filmnya Erin Brokovich yang menceritakan tentang seorang paralegal bernama sama dengan judul film tersebut, yang mengangkat kasus nyata yang terjadi di Amerika Serikat, dimana perusahaan Pacific Gas and Electric (PG&E Corporation) yang mengetahui bahwa salah satu unit stasiun kompressornya di Hinckley telah mencemarkan air di daerah tersebut. Perusahaan itu tidak mengumumkannya tetapi justru meyakinkan para penduduk setempat dengan memberikan laporan pemeriksaan air di Hinckley yang hasilnya menunjukkan bahwa air di daerah mereka aman untuk dikonsumsi. Akibatnya, para pengguna air yang telah terkontaminasi menderita berbagai macam penyakit dan bahkan sampai meninggal dunia (industrial poisoning). Kasus ini menjadi salah satu kasus corporate crime terbesar dengan penjatuhan sanksi pidana berupa pembayaran ganti rugi dengan jumlah yang terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Kejahatan korporasi(corporate crime) merupakan salah satu wacana yang timbul dengan semakin majunya kegiatan perekenomian dan teknologi.Corporate crime bukanlah barang baru, melainkan barang lama yang senantiasa berganti kemasan. Tidak ada yang dapat menyangkal bahwa perkembangan zaman serta kemajuan peradaban dan teknologi turut disertai dengan perkembangan tindak kejahatan berserta kompleksitasnya. Di sisi lain, ketentuan Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia belum dapat menjangkaunya dan senantiasa ketinggalan untuk merumuskannya. Salah satu contohnya adalah Tindak Pidana Pencucian Uang (money laundering) yang baru dikriminalisasi secara resmi pada tahun 2002. Contoh lain adalah kejahatan dunia maya ataucyber crime yang sampai dengan saat ini pengaturannya masih mengundang tanda tanya. Akibatnya, banyak bermunculan tindakan-tindakan atau kasus-kasus illegal, namun tidak dapat dikategorikan sebagai crime.[1]
Tindak pidana (crime)dapat diidentifikasi dengan timbulnya kerugian (harm), yang kemudian mengakibatkan lahirnya pertanggungjawaban pidana atau criminal liability.[2]Yang pada gilirannya mengundang perdebatan adalah bagaimana pertanggungjawaban korporasi ataucorporate liability mengingat bahwa di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) Indonesia yang dianggap sebagai subyek hukum pidana hanyalah orang perseorangan dalam konotasi biologis yang alami (naturlijkee person). Di samping itu, KUHP juga masih menganut asas sociates delinquere non potest dimana badan hukum atau korporasi dianggap tidak dapat melakukan tindak pidana. [3] Jika seandainya kegiatan atau aktivitas yang dilakukan untuk dan atas nama suatu korporasi terbukti mengakibatkan kerugian dan harus diberikan sanksi , siapa yang akan bertanggungjawab ? Apakah pribadi korporasi itu sendiri atau para pengurusnya ?
Kejahatan Korporasi
Black’s Law Dictionary menyebutkan kejahatan korporasi atau corporate crime adalah any criminal offense committed by and hence chargeable to a corporation because of activities of its officers or employees (e.g., price fixing, toxic waste dumping), often referred to as “white collar crime. [4]
Kejahatan korporasi adalah tindak pidana yang dilakukan oleh dan oleh karena itu dapat dibebankan pada suatu korporasi karena aktivitas-aktivitas pegawai atau karyawannya (seperti penetapan harga, pembuangan limbah), sering juga disebut sebagai “kejahatan kerah putih”.
Sally. A. Simpson yang mengutip pendapat John Braithwaite menyatakan kejahatan korporasi adalah “conduct of a corporation, or employees acting on behalf of a corporation, which is proscribed and punishable by law“. [5]
Simpson menyatakan bahwa ada tiga ide pokok dari definisi Braithwaite mengenai kejahatan korporasi. Pertama, tindakan ilegal dari korporasi dan agen-agennya berbeda dengan perilaku kriminal kelas sosio-ekonomi bawah dalam hal prosedur administrasi. Karenanya, yang digolongkan kejahatan korporasi tidak hanya tindakan kejahatan atas hukum pidana, tetapi juga pelanggaran atas hukum perdata dan administrasi.Kedua, baik korporasi (sebagai “subyek hukum perorangan “legal persons“) dan perwakilannya termasuk sebagai pelaku kejahatan (as illegal actors), dimana dalam praktek yudisialnya, bergantung pada antara lain kejahatan yang dilakukan, aturan dan kualitas pembuktian dan penuntutan. Ketiga, motivasi kejahatan yang dilakukan korporasi bukan bertujuan untuk keuntungan pribadi, melainkan pada pemenuhan kebutuhan dan pencapaian keuntungan organisasional. Tidak menutup kemungkinan motif tersebut ditopang pula oleh norma operasional (internal) dan sub-kultur organisasional. [6]
Kejahatan korporasi mungkin tidak terlalu sering kita sering dalam pemberitaan-pemberitaan kriminil di media. Aparat penegak hukum, seperti kepolisian juga pada umumnya lebih sering menindak aksi-aksi kejahatan konvensional yang secara nyata dan faktual terdapat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat. Ada beberapa beberapa faktor yang mempengaruhi hal ini. [7]Pertama, kejahatan-kejahatan yang dilaporkan oleh masyarakat hanyalah kejahatan-kejahatan konvensional. Penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas aparat kepolisian sebagian besar didasarkan atas laporan anggota masyarakat, sehingga kejahatan yang ditangani oleh kepolisian juga turut bersifat konvensional. Kedua, pandangan masyarakat cenderung melihat kejahatan korporasi atau kejahatan kerah putih bukan sebagai hal-hal yang sangat berbahaya,dan juga turut dipengaruhi.Ketiga, pandangan serta landasan hukum menyangkut siapa yang diakui sebagai subjek hukum pidana dalam hukum pidana Indonesia. Keempat, tujuan dari pemidanaan kejahatan korporasi adalah lebih kepada agar adanya perbaikan dan ganti rugi, berbeda dengan pemidanaan kejahatan lain yang konvensional yang bertujuan untuk menangkap dan menghukum.Kelima, pengetahuan aparat penegak hukum menyangkut kejahatan korporasi masih dinilai sangat minim, sehingga terkadang terkesan enggan untuk menindaklanjutinya secara hukum. Kelima, kejahatan korporasi sering melibatkan tokoh-tokoh masyarakat dengan status sosial yang tinggi. Hal ini dinilai dapat mempengaruhi proses penegakan hukum.
Kitab Undang-undang Hukum Pidana Indonesia memang hanya menetapkan bahwa yang menjadi subjek tindak pidana adalah orang persorangan (legal persoon). Pembuat undang-undang dalam merumuskan delik harus memperhitungkan bahwa manusia melakukan tindakan di dalam atau melalui organisasi yang, dalam hukum keperdataan maupun di luarnya (misalnya dalam hukum administrasi), muncul sebagai satu kesatuan dan karena itu diakui serta mendapat perlakuan sebagai badan hukum atau korporasi. Berdasarkan KUHP, pembuat undang-undang akan merujuk pada pengurus atau komisaris korporasi jika mereka berhadapan dengan situasi seperti itu. [8] Sehingga, jika KUHP Indonesia saat ini tidak bisa dijadikan sebagai landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi, namun hanya dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi. Hal ini bisa kita lihat dalam pasal 398 KUHP yang menyatakan bahwa jika seorang pengurus atau komisaris perseroan terbatas, maskapai andil Indonesia atau perkumpulan korporasi yang dinyatakan dalam keadaan pailit atau yang diperintahkan penyelesaian oleh pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun 4 bulan: 1. jika yang bersangkutan turut membantu atau mengizinkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan anggaran dasar, sehingga oleh karena itu seluruh atau sebagian besar dari kerugian diderita oleh perseroan, maskapai, atau perkumpulan…(dan seterusnya).
Di Belanda sendiri, sebagai tempat asal KUHP Indonesia, pada tanggal 23 Juni 1976, korporasi diresmikan sebagai subjek hukum pidana dan ketentuan ini dimasukkan kedalam pasal 51 KUHP Belanda (Sr.), yang isinya menyatakan antara lain:
Tindak pidana dapat dilakukan baik oleh perorangan maupun korporasi;
Jika suatu tindak pidana dilakukan oleh korporasi, penuntutan pidana dapat dijalankan dan sanksi pidana maupun tindakan yang disediakan dalam perundang-undangan—sepanjang berkenaan dengan korporasi—dapat dijatuhkan. Dalam hal ini, pengenaan sanksi dapat dilakukan terhadap
Akhir-akhir ini makin banyak dibicarakan perlunya pengaturan tentang perilaku bisnis terutama menjelang mekanisme pasar bebas. Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis dibiarkan bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar.
Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis, bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan yang akan dibahas adalah persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya.
Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie.
Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. “Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini,” kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadai, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie.
A Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa benar Indomie mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan tersebut. tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah.
Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg per kilogram untuk mie instan dan 1.000 mg nipagin per kilogram dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker. Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie ini.
Bagi perusahaan, CSR dapat dipandang menjadi dua hal yang saling bertolak belakang, yaitu apakah CSR itu bersifat sukarela atau wajib. Beberapa ahli menyatakan CSR seharusnya didasarkan pada kesukarelaan dengan pendirian Ketua Panitia Khusus UU. Dengan demikian kegiatan CSR perusahaan harus diregulasi. Namun,sampai saat ini banyak perusahaan yang memandang CSR bukan sebagai kewajiban, tetapi suatu kesukarelaan.
Pemahaman yang dipromosikan oleh perusahaan-perusahaan yang berkomitmen CSR tinggi maupun banyak ahli yang sependapat adalah bahwa sukarela bukan berarti perusahaan bisa semaunya saja memilih untuk menjalankan atau tidak menjalankan tanggung jawabnya atau selektif terhadap tanggung jawab itu. Yang dimaksud dengan kesukarelaan adalah perusahaan juga menjalankan tanggung jawab yang tidak diatur oleh regulasi. Jadi, apa yang sudah diatur oleh pemerintah harus dipatuhi dahulu sepenuhnya, kemudian perusahaan menambahkan lagi hal-hal positif yang tidak diatur. Semakin banyak hal positif yang dilakukan perusahaan, padahal hal itu tidak diharuskan oleh pemerintah, maka kinerja CSR perusahaan itu semakin tinggi.
Sebagai bentuk komitmen Indosat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat, Indosat telah melaksanakan berbagai progam yang kami harapkan dapat meningkatkan kehidupan masyarakat Indonesia untuk menjadi lebih baik.
Corporate Social Responsibility yang Indosat lakukan tidak terbatas hanya pada pengembangan dan peningkatan kualitas masyarakat pada umumnya, namun juga menyangkut tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Kepedulian terhadap pelanggan, pengembangan Sumber Daya Manusia, mengembangkan Green Environment serta memberikan dukungan dalam pengembangan komunitas dan lingkungan sosial. Setiap fungsi yang ada, saling melengkapi demi tercapainya CSR yang mampu memenuhi tujuan Indosat dalam menerapkan ISO 26000 di perusahaan.
Penerapan CSR Indosat mencakup 5 inisiatif, yang dilakukan secara berkesinambungan yaitu:
Organizational Governance
Penerapan tata kelola Perusahaan terbaik termasuk mematuhi regulasi dan ketentuan yang berlaku, berlandaskan 5 prinsip: transparansi, akuntabilitas, pertanggungjawaban, interpendensi dan kesetaraan.
Consumer Issues
Menyediakan dan mengembangkan produk dan jasa telekomunikasi yang memberikan manfaat luas bagi pemakainya, layanan yang transparan dan terpercaya.
Labor Practices
Mengembangkan hubungan yang saling menguntungkan antara Perusahaan dan karyawan serta pengembangan sistem, organisasi dan fasilitas pendukung sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi Perusahaan.
Environment
Mengembangkan budaya Peduli lingkungan termasuk upaya-upaya nyata untuk mengurangi penggunaan emisi karbon dalam kegiatan perusahaan.
Community Involvement
Ikut mengembangkan kualitas hidup komunitas dalam hal kualitas pendidikan sekolah dan olahraga, kualitas kesehatan, serta ikut serta dalam mendukung kegiatan sosial komunitas termasuk bantuan saat bencana/musibah.
CSR Goal Indosat
Bertumbuh, mematuhi ketentuan dan regulasi yang berlaku serta Peduli kepada masyarakat. Program CSR di tahun 2008 memiliki tema khusus “Indosat Cinta Indonesia”, yang kemudian pada tahun 2009, tema CSR Indosat berkembang menjadi “Satukan Cinta Negeri” sebagai bentuk refleksi komitmen dan tanggungjawab Indosat sebagai perusahaan di Indonesia yang Peduli atas kesejahteraan masyarakat dan lingkungan, serta upayanya untuk senantiasa berkarya, memberikan manfaat, serta mengajak peran serta seluruh stakeholder untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang lebih baik, yang merupakan terjemahan dari keinginan masyarakat pada umumnya untuk terlibat secara aktif dalam berbagai program sosial Indosat.
Analisis:
CSR adalah salah satu program yang bisa dilakukan perusahaan untuk melakukan kepedulian terhadap konsumen atau masyarakat umum. Hal ini tidak merupakan kewajiban melainkan kesukarelaan pihak perusahaan. Melihat penerapan CSR yang dilakukan indosat tersebut, saya berpendapat bahwa perusahaan yang menyediakan jasa telekomunikasi tersebut tidak hanya berorientasi pada profitabilitas internal tetapi sangat peduli terhadap lingkungan sekitar perusahaan. 5 hal yang inisiatif saya rasa cukup untuk memenuhi kepedulian terhadap lingkungan yang notabene bukan hanya lingkungan mikro tetapi lingkungan bangsa secara global. Dan untuk merealisasikan teori inisiatif diatas sebaiknya perusahaan menggunakan langkah-langkah yang strategis sesuai yang dikemukakan diatas. Dengan demikian akan ditemukan titik temu antara makna tindakan CSR yang memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan sekaligus mendatangkan manfaat ekonomi baik bagi masyarakat maupun perusahaan. Sepanjang keseimbangan ini dijaga dengan saksama, CSR bisa dipastikan diselenggarakan dengan penuh tanggung jawab.
sumber : http://www.indosat.com/corporate_responsibility
Raja Astina Prabu Suyudana
berkenan duduk di singgasana kerajaan, dihadap oleh Pandita Praja Dhahyang
Durna, Adipati Karna, Patih Sakuni, saudara-saudara raja tampak juga Raden Arya
Dursusana, Raden Arya Kartamarma, Raden Arya Jayadrata, Raden Arya Durmagati,
Raden Arya Citraksa dan Raden Arya Citraksi. Konon di pasewakan Prabu Suyudana
menguraikan keheranannya perihal berita yang tersiar bahwasanya saudaranya
Pandawa mengalami keelokan-keelokan kehidupannya, yang tak lain tentu atas
perkenan dewa. Untuk jangan sampai raja selalu dirundung
keheranan, dikeluarkanlah perintah untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut.
Tugas diberikan kepada Patih Arya Sakuni, Dipati Karna beserta para Korawa.
Selesai perintah raja, pertemuan di pasewakan pada waktu itu segera dibubarkan.
Raja meninggalkan pasewakan, selanjutnya berkenan bertemu dengan permaisuri
Dewi Banowati. Kepada sang Permaisuri dijelaskan, bahwasanya atas kehendak raja
telah diutus Patih Sakuni, Dipati Karna dan para Korawa pergi ke praja Amarta,
untuk menyatakan kebenaran berita, bahwasanya Pandawa mengalami
keelokan-keelokan dalam kehidupannya.
Konon Sri Kresna raja di negara Dwarawati sangat
rindu kepada adik-adiknya Pandawa, kepada mereka yang menghadapnya, yalah putra
mahkota Raden Arya Samba, Raden Arya Setyaaka dan Raden Arya Setyaki, Patih
Udawa diperintahkan untuk tetap berada di istana. Sesuai titah raja, segera Sri
Kresna melaju ke praja Amarta.
Di Kerajaan Guwamiring, Prabu Jatayaksa sedang
mengadakan perembukan dengan Patih Jataketu, dan emban raja bernama Jatayaksi.
Permasalahan berkisar kepada tersiarnya berita, bahwasanya raja dari Kerajaan
Srawantipura bernama Prabu Sukendra berputra-putri bernama Dyah Sarimaya yang
teramat elok parasnya. Raja Guwamiring berketetapan diri untuk melamarnya,
kepada punggawa praja ialah dtya tertua bernama Kalameru diserahi tugas
menyampaikan surat lamaran ke hadapan raja Srawantipura. Setelah diterima
perintah raja, bermohon dirilah Kalameru untuk melaksanakan tugas raja.
Kepergiannya disertai wadyabala Kerajaan Guwamiring parjurit andalan raja
kesemuanya berwujud raksasa si Kalayaksa, Kalanindita, Kalakarawu. Di
pertengahan perjalanannya mereka bertemu dengan wadyabala dari Kerajaan Astina,
terjadilah perselisihan rembug sehingga memuncak menjadi peperangan. Wadya
yaksa terpaksa mundur tak tahan menghadapi wadyabala Astina, namun kedua-duanya
menyadari tak perlunya dilanjutkan perselisihan tersebut, sehingga kedua-duanya
pun melanjutkan perjalanannya masing-masing. Di Gunung Retawu, bermukimlah seorang pertapa yang
suci bernama Begawan Abiyasa.Konon pada suatu hari dipacrabakan pertapaan
Begawan Abyasa menerima kedatangan cucunya yang bernama Raden Angkawijaya.
Ditanyailah Raden Angkawijaya, berdatang sembah menceriterakan bahwasanya
kedatangannya di pertapaan diutus ayahandanya ialah Raden Arjuna dengan maksud
mohon doa restu terkabulkanlah apa yang dicita-citakan ayahandanya. Seetlah
sang Begawan memberikan jawaban seperlunya, kepada Raden Angkawijaya
dipersiapkan segara meninggalkan pertapaan Wukir Retawu, untuk segera kembali
diiringikan Kyai Semar, Nalagareng, dan Petruk.
Di Kerajaan Srawantipura Prabu Sukendra
membicarakan perihal keadaan putra-putrinya yang bernama Dyah Sarimaya dengan
Patih Kalakismaya. Raja bersabda, " Wahai Kakanda Patih Kalakismaya,
alangkah sedihnya keadaan saya ini. Bukanlah aib yang kusandang,melihat putriku
Dyah Sarimaya mengandung tak tetntu ayahnya? Justru keadaan ini lebih
mempersulit lagi, sebab banyak sudah para ratu lain negeri yang mengajukan
lamaran, bagaimana sikapku menghadapi mereka Paman Patih?." Patih
Kalakismaya mempersilakan, sebaiknya kepada putri Sarimaya ditanyai saja,
bagaimana duduk perkara sebenarnya. Raja menerima usul Patih Kalakismaya,
segera menemui putrinya di dalam kraton.
Kepada Dyah Sarimaya raja bertanya," Wahai
buah hatiku, Anakku Sarimaya, cobalah berterus-terang ceritakanlah kepada aku,
bagaimana asal-mulanya anakku mengandung? Dan siapakah gerangan yang telah
berbuat denganmu itu?." Dyah Sarimaya dengan berterus-terang melaporkan
keadaan dirinya dari awal sampai akhir, bahwasanya sampai dalam keadaan
mengandung, sebab bertemu dengan seorang satriya Madukara bernama Raden Arjuna.
Agaknya keterangan yang jujur dari putri Sarimaya tak dapat begitu saja
diterima oleh Prabu Sukendra. Tampak raja sangat meluap amarahnya, kepada
putranya bersabdalah sang Raja, " Wahai Anakku Mayakusuma, coba perhatikan
kejadian kakakmu itu, sudah mengandung tak keruan lagi lakinya. Bagiku hidup di
dunia ini sudah tak ada gunanya lagi, aib yang kuderita. Tak pantaslah bagi seorang
raja yang disegani oleh para raja negeri lain, berputra tak keruan
tingkah-lakunya, sebaiknya aku tak suadi melihatnya saja," kepada Raden
Mayakusuma dan Patih Kalakismaya diperintahkan untuk segera menghukum Dyah
Sarimaya, dengan jalan dibakar hidup-hidup. Perintah segera dilaksanakan, Dyah
Sarimaya tampak terbakar di api unggun, namun tak mati. Kelihatan Raden Arjuna
di dalam api unggun itu bertemu dengan istrinya ialah Dyah Sarimaya. Setelah
berpesan kepada Dyah Sarimaya, Raden Arjuna kembali ke praja Madukara.
Di Kearajaan Amarta, Prabu Puntadewa menerima
kedatangan raja Dwarawati Prabu Kresna, tampak juga hadir Raden Arya Wrekodara,
Raden Nakula, dan Sadewa. Pembicaraan berkisar perihal Raden Arjuna yang sudah
sekian lamanya tak tampak sowan ke praja Amarta. Selagi mereka
berbincang-bincang masuklah Adipati Karna dan Patih Arya Sakuni diiringi pula
oleh para Korawa. Raden Arya Dursasana, Raden Arya Kartamarma, Raden Arya
Durmagati, Raden Arya Jayadrata, Raden Arya Citraka, dan Raden Arya Citraksi.
Seluruh yang hadir membulatkan tekad untuk menemui Raden Arjuna di praja
Madukara. Raden Arjuna yang bergelar Sang Prabu Arjuna sedang duduk dihadap
oleh putra-putranya, Raden Arya Gatutukaca, Raden Angkawijaya, Kyai Semar,
Nalagareng, dan Petruk. Hari itu Prabu Arjuna berkenan memberikan perintah,
" Wahai Putra-pitraku, hari ini siapa saja yang berkunjung ke Madukara,
hendaknya tak melambung keris (senjata)," para putra mengiyakan perintah,
pamandanya. Segera Prabu Arjuna masuk kedalam kedaton, para putra berjaga-jaga
kalau ada tamu berkunjung ke Madukara. Tak lama datanglah Sri Kresna dan Raden
Arya Wrekodara, Raden Arya Gatutkaca berdatang sembah kepada kepada ayahandanya
Raden Arya Wrekodara menyampaikan pesan Prabu Arjuna, jika hendak masuk ke Madukara
keris harap ditanggalkan. Peringatan yang disampaikan oleh putranya Raden Arya
Gatutkaca dianggap oleh Raden Wrekodara agak janggal, tak layak lagi seorang
ksatriya menanggalkan kerisnya, apa lagi kelengkapan sopan- santun berbuasana.
Dalam benaknya Raden Wrekodara mengguman,
" Ah, ada-ada saja Arjuna ini ",
segera segala peringatan tak diindahkannya, masuklah Raden Arya Wrekodara ke
dalam ruangan tamu di praja Madukara.
Namun apa yang terjadi, selagi melangkahi pintu
utama, Raden Arya Wrekodara sudah berubah warna, berganti menjadi wujud seorang
wanita. Menyadari dirinya telah berubah jenis, undurlah Raden Arya Wrekodara
mengurungkan niatnya. Disusul kemudian oleh Sri Kresna, Raden Angkawijaya
menyongsongnya, dan berdatang sembah sambil berkata.
" Uwa Prabu Kresna, Ramanda Arjuna berpesan
semua tamu yang masuk ke dalam praja Madukara, mohon senjata
ditinggalkan"' namun Prabu Kresna pun tak menuruti permintaan Raden
Angkawijaya. Selagi memaksa masuk ke dalam, berubah pula keadaan Prabu Kresna
menjadi wanita.
Sri Kresna menyadarinya, agaknya merasa malu tak
mengindahkan permohonan Raden Angkawijaya, baliklah Sri Kresna dengan tak
mengucap sepatah kata pun kepada Raden Angkawijaya. Namun dalam hatinya sangat
masgul, apakah gerangan yang terjadi dengan adiknya Arjuna bertingkah
sedemikian rupa. Untuk meyakinkan keadaan tersebut, lajulah Sri Kresna terbang
menuju ke tempat Dewa Suralaya. Tak lain akan mencari sebab-musabab kejadian
tersebut.
Di kadewatan Suralaya, Hyang Girinata berembug
dengan Hyang Narada, sabda Hyang Girinata. " Kakanda Narada, apakah
gerangan yang menjadikan gara-gara (huru-hara) di lingkungan Suralaya
ini?". Hyang Narada melapor pada Hyang Girinata, bahwasanya Suralaya,
bahwasanya Suralaya dalam keadaan garagara tak lain dikarenakan Prabu Kresna
naik ke kadewatan. Belum usai Hyang Narada melapor, menghadaplah Sri Kresna kepada Hyang Girinata
menceriterakan bahwasanya diretya pada Arjunasedang mempertontonkan kesaktiannya, yang tak ubahnya
seperti lalaning jagat. (Lalaning Jagad dapatdiartikan bahwasanya Janaka menjadi jagonya para dewa,
dikarenakan kesaktiannya ). Hyang Siwah setelah mendengar laporan Sri Kresna amat murka,
Hyang Narada diutusnya kemretya pada untuk menemuiArjuna, dan berangkatlah Hyang Narada melakukan tugas
tersebut. Sampailah sudah di praja Madukara,Raden Arya Gatutkaca menyongsong kedatangan Hyang
Narada, tak ketinggalan Raden Angkawijaya. Dengan segala kerendahan hati kedua ksatriya
memberitakan perihal segala peraturan tata cara yangdipesankan oleh ramandanya Prabu Arjuna, ialah barang
siapa yang akan memasuki praja Madukara takdiperkenankan membawa serta senjata pada dirinya. Hyang
Narada tentu saja tak dapat menerimaperlakuan
peraturan yang sedemikian itu, apa lagi merasa dirinya sebagai seorang dewa dan
menjadiutusan Hyang Girinata. Murkalah
Hyang Narada kepada kedua istrinya tersebut, memaksakan dirinya untukmasuk melangkahi pintu gapura utama Madukara. Apa yang
terjadi, tak ubahnya seperti yang terdahulu,barubah pulalah rupa dari dirinya sudah berubah menjadi
wanita segera meninggalkan pura Madukara,kembali
melapor ke Suralaya. Adapun Sri Kresna bersama-sama Raden Arya Bima, hanya
tertegun sajamelihat keadaan demikian itu.
Di Kerajaan Amarta, Sri Yudistira menerima
kadatangan Adipati Karna beserta Patih Arya Sakuni dan paraKorawa. Tampak tak jauh dari Sri Yudistira, Raden
Nakula, Raden Sadewa. Agaknya setelah tugaspenyelidikan Adipati Karna dan Patih Arya Sakuni cukup
membawa bukti-bukti, bermohon dirilahmereka
balik ke nagara Astina.
Konon Sekermbalinya Hyang Narada dari Madukara,
Hyang Siwah segera turun kemretyapada untuk menemui Arjuna, tak lupa Hyang Narada tutut serta
mengiringinya. Di pura Madukara Raden Arjuna yang sedang dihadap oleh Raden Gatutkaca,, Raden
Angkawijaya menerima kedatangan Hyang Siwah dan Hyang Narada. Setelah bertatap
muka dengan Arjuna, Hyang Siwah menyadarinya bahwasanya bukan Arjuna, yang
dihadapinya, malainkan Sang Hyang Jati wisesa. Bersujudlah Hyang Siwah di
hadapan Sang Hyang Jatiwisesa, dan setelah diberi uraian dan penjelasan,
bermohon dirilah Hyang Siwah untuk kembali ke kahyangan Suralaya beserta Hyang
Narada. Sri Kresna dan Raden Wrekodra yang hadir pula di pura Madukara
diberitahu oleh Sang Hyang Jatiwisesa, bahwasanya sesungguhnya Raden Arjuna
menjadi lelananging jagat jagonya para dewa dalam membrantas
kejahatan-kejahatan di dunia ini. Setelahberpesan, Hyang Jatiwisesa
meninggalkan tubuh Arjubnam kembalilah dalam keadaan sebenarnya. Parakeluarga
merangkul Raden Arjuna, seisi pura Madukara diliputi kebahagiaan. Namun suasana
yang hanggarbinggar itu tak berlangsung lama. Justru para Korawa yang dipimpin
oleh Adipati Karna mengadakan pembakaran. Banyak bangunan di Madukara yang
terbakar, Raden Arya Gatutkaca dan Raden Angkawijaya diperintahkan untuk
mengundurkan musuh yang ternyata mereka saudara sendiri, dari Korawa. Kadua
ksatriya mengamuk bagaikan banteng yang terluka, para Korawa tak tahan
menghadapi ulah kedua ksatriya tersebut dalam medan laga. Ajhirnya mundurlah
mereka kembali ke negara Astina.
Kembalilah pura Madukara diliputi kesenangan, Sri
Kresna setelah melepaskan rindunya kepada RadenArjuna berkenan mohon diri kembali ke negara Dwarawati.
Raden Arya Wrekodara pergi ke praja Amartauntuk
melapor kepada Raja Yudistira, perihal kejadian-kejadian tersebut.
Papua merupakan Provinsi terujung di bagian timur
wilayah Indonesia, ada yang mengenal dengan nama Irian jaya, Jayapura dan nama
– nama lainnya tentang Provinsi ini. Papua terbagi menjadi 2 Provinsi, Papau
Barat dan Provinsi Papua dengan Ibukota Irian Jaya.
Papua banyak memiliki
Objek Wisata yang sulit di temui di tempat lain, seperti Objek Wisata Alam
Salju abadi dan Lokasi menyelam Raja Ampat yang sangat Indah pemandangan dasar
lautnya. Berikut ini beberapa ulasan tentang Objek Wisata di Papua.
Raja Ampat
Raja Ampat adalah
satu kepulauan yang terletak di Irian Jaya Barat. Daerah ini merupakan tempat wisata yang
kaya akan keindahan laut.
Bisa dikatakan, Raja Keindahan Terumbu Karang. Di Tempat
Wisata ini terdapat sekitar 75 % dari Jenis Terumbu Karang yang
ada Dunia. Jadi, bagi Anda semua yang suka diving alias
menyelam, bakal nggak lengkap kalau belum menyelam dan melihat indahnya terumbu
karang Kepulauan Raja Ampat. Tapi anda harus pesan dulu kapan waktunya anda
bisa melakukan Penyelaman karena disini jadwal untuk melakukan Diving /
Menyelam sudah memiliki Daftar antri yang luar biasa banyaknya dari Wisatawan
dalam Negeri dan Manca Negara.
Danau Sentani
Danau Sentani di
Papua terletak antara 20.33 hingga 2041 LS dan 1400.23 sampai 1400 38 BT.
Berada 70 – 90 m diatas permukaan laut. Terletak juga diantara pegunungan Cyclops.
Merupakan danau Vulkanik. Sumber airnya berasal dari 14 sungai besar dan kecil
dengan satu muara sungai, Jaifuri Puay. Diwilayah barat, Doyo lama dan Boroway,
kedalaman danau sangat curam. Sedangkan sebelah timur dan tengah, landai dan
dangkal, Puay dan Simporo. Disini juga terdapat hutan rawa di daerah Simporo
dan Yoka. Dalam beberapa catatan disebutkan, dasar perairannya berisikan
substrat lumpur berpasir (humus). Pada per-airan yang dangkal, ditumbuhi
tanaman pandan dan sagu. Luasnya sekitar 9.360 Ha dengan kedalaman rata rata
24,5 meter. Disekitaran danau ini terdapat 24 kampung. Tersebar dipesisir dan
pulau-pulau kecil yang ada ditengah danau.
Danau Sentani
merupakan danau terbesar di Provinsi Jaya Pura. Lokasi bersejarah ini,
menawarkan scenery yang luar biasa. Masih adanya beberapa Bangau dan Elang yang
akan menyambar seekor ikan di Danau Sentani. Anda pun disediakan sebuah perahu
Johnson saat mengelilingi danau tersebut.
Sayang Danau Sentani
masih kurang terkenal sebagai salah satu objek tujuan
wisata dibanding dengan tempat-tempat
wisata bahari lain di Indonesia. Oleh karena itu pemerintah
membuat satu event berjuluk Festival Danau Sentani sebagai
langkah memperkenalkan Sentani di mata wisatawan baik dalam maupun luar negeri.
Salju Abadi Puncak Jaya Wijaya
Puncak yang juga terdaftar sebagai salah satu dari
tujuh puncak benua (Seven Summit) yang sangat fenomenal dan menjadi incaran
pendaki gunung di berbagai belahan dunia. Puncak Jayawijaya terletak di Taman Nasional
Laurentz, Papua. Puncak ini diselimuti oleh salju abadi. Salju abadi di Puncak
Jayawijaya merupakan satu dari tiga padang salju di daerah tropis yang terdapat
di dunia.
Di negeri kita yang dilalui garis khatulistiwa ini,
menyaksikan adanya salju di Indonesia tentunya sesuatu yang mustahil untuk bisa
dimengerti. Carstenz Pyramid (4884 mdpl) adalah salah satu puncak yang bersalju
tersebut. Puncak tertinggi di Asia Tenggara dan Pasifik ini terletak di
rangkaian Pegunungan Sudirman. Puncak ini terkenal tidak hanya karena
tingginya, tetapi juga karena terdapat lapisan salju di puncaknya.
Genre : Aksi, Petualangan, Thriller
Tanggal Rilis Perdana : 09 November 2012
Durasi : 143 min.
Studio : Columbia Pictures
Sutradara : Sam Mendes
Produser : Barbara Broccoli, Michael G. Wilson
Penulis Naskah : Robert Wade, Neal Purvis, John Logan
Pemain : Daniel Craig, Javier Bardem, Judi Dench, Naomie Harris,
Berenice Marlohe, Ralph Fiennes, Albert Finney, Ben Whishaw,
Helen McCrory, Ola Rapace, Tonia Sotiropoulou
Synopsis
Setelah operasi di Istanbul berakhir
dengan bencana, James Bond hilang dan diduga telah tewas. Cerita tentang
tewasnya 007 ini berawal ketika Agen MI6 James Bond yang juga dikenal sebagai
007 bersama Eve Moneypenny saling membantu dalam misi di Turki di mana seorang
petugas MI6 telah tewas dan sebuah harddisk dicuri.
Kejadian
itu adalah kejadian tentang perangkat cakram keras ini berisi rincian semua
agen NATO yang beroperasi dan menyamar dalam organisasi teroris. Bond dan
Moneypenny mengejar penyerang mereka yang bernama Patrice dan berusaha untuk
memulihkan perangkat tersebut. Selama dalam pengejaran, Bond ditembak di bahu,
tapi terus mengejar, sampai ia ditembak dari atas kereta oleh Moneypenny, yang
salah menilai menembaknya. Ia kemudian dilaporkan hilang, diduga terbunuh.
sementara
identitas para agen rahasia MI6 yang masih aktif terkuak di internet. Banyak
yang meragukan kemampuan M untuk menjalankan Misi Rahasia, dan ia menjadi
perhatian pemerintah dalam menangani masalah tersebut. Lima nama agen dirilis
ke internet, dengan janji lebih untuk seminggu kedepan dan kepala MI6 M datang
di bawah tekanan politik untuk pensiun selama pertemuan dengan Ketua Intelijen
dan Keamanan Komite, Gareth Mallory. Sekembalinya dari pertemuan tersebut, MI6
terkena serangan dan ledakan terjadi di kantor, menewaskan sejumlah karyawan
MI6.
Ketika misi
itu sendiri diserang, kehadiran Bond secara tiba-tiba, memberikan alasan bagi M
untuk mencari si penjahat berbahaya, Raoul Silva. Saat Bond berhasil mengikuti
jejak Raoul dari London ke laut Cina Selatan, Bond menunjukkan kesetiaannya
kepada M dan melupakan rahasia masa lalunya.
Singkat
cerita, setelah kejadian terbunuhnya gadis bond di china, kemudian Bond kembali
ke Inggris dan membawa Silva. Disinilah mulai terjadinya tragedi dan action
yang sayang untuk dilewatkan. Dengan kecerdikan Bond, ia mengendarai M dan
mobilnya menjauh dari tempat kejadian dan setelah bertukar untuk sendiri Aston
Martin DB5, mendorong dia untuk rumah masa kecilnya yang terpencil di
Skotlandia yang diberi nama Skyfall. Strategi yang dilakukannya adalah
menginstruksikan Q untuk meninggalkan jejak elektronik untuk Silva untuk
mengikuti, keputusan yang didukung oleh Mallory.
Di Skyfall
terjadi akhir dari segalanya. Di tempat masa kecil Bond inilah, pada akhirnya
Silva dan M terbunuh, dengan rumah masa kecilnya yang hancur berantakan akibat
pertempuran dahsyat malam itu.
Kekurangan dan Kelebihan
Ada beberapa kelemahan yang temukan dalam film ini.
Pada adegan awal Bond mengalami dua kali kena tembak, yang pertama ditembak
oleh teroris dan yang kedua oleh Eve. Tapi dari luka yang ada hanya luka
tembakan dari teroris yang terlihat bekasnya dan hanya ada satu luka saja yang
terlihat saat Bond tidak memakai baju. Padahal tembakan dari Eve mengakibatkan
Bond jatuh dari kereta api dan terlihat parah.
Kelebihannya adalah, sosok Bond yang lebih manusiawi.
Berbeda dengan edisi lawas dimana James Bond digambarkan sebagai mata-mata yang
tangguh, James Bond pada Skyfall digambarkan sebagai sosok manusia normal, yang
juga memiliki rapuh dan punya kelemahan. Image yang berbeda ini mulai tampak
sejak franchise James Bond disutradarai oleh sam Mendez.
Penilaian
Tapi pada dasarnya ini adalah film Bond yang
tentunya tidak terlepas dari adegan aksi. Mau sebagus apapun eksplorasi
karakternya kalau adegan aksinya melempem maka filmnya jadi mengecewakan. Tapi
ternyata Sam Mendes tidak hanya berhasil dalam meramu porsi drama dalam film
ini, karena berbagai adegan aksi yang ada mampu tampil spektakuler dan juga
menegangkan. Lihat saja mulai dari adegan diawal, kejar-kejaran Bond dan Silva
yang berujung spektakuler saat sebuah kereta terjatuh dan nyaris menimpa Bond
sampai tentunya adegan klimaksnya yang tidak hanya seru, menegangkan namun juga
begitu kelam dan personal tersebut. Pengemasan klimaksnya adalah salah satu
klimaks terbaik dalam film Bond, dimana hal tersebut tidak terlepas dari lokasi
tempat klimaks tersebut berada. Sam Mendes mampu meramu bagaimana supaya adegan
aksinya mampu terasa mengena bagi penonton. Mungkin porsinya tidak begitu
banyak dan ada dibawah Quantum of Solace dari segi kuantitas, namun
dari segi kualitas adegan aksi diSkyfall tidaklah terasa kosong dan asal
seru. Tentu saja itu semua masih dibalut dengan gambar-gambar indah mulai dari
pemandangan Turki sampai Skotlandia di akhir film yang makin menambah suasana
dingin dan gelap.
This
research
is intended to measure the effect of consumer satisfaction on brand
loyalty.
Research instrument is a questionnaire. Consumer satisfaction is
measured using
product attributes, service-related attributes, and attributes
associated with
the purchase. Brand loyalty is measured through behavioral habits,
switching
cost, satisfaction, liking to the brand and commitment. The analysis was
done
using the concept of correlation and regression. The results revealed
that
consumer satisfaction significantly affect brand loyalty.
INTRODUCTION Modern
societyis characterized byhigh workingactivityandtheopportunity tobe ableto workfor anyonewhohas thecompetencewithout discrimination. These
activitieshave an impact ontheba-nyaknya careerworking womenorspendtime outdoors, so thatdifficultiesin performingactivities as ahousewifeincluding thesupplyof
foodforthe family.
Family group withenougheconomytend to choose foodsoutsidetherestaurant,
besidestastedelicioustoomuchonceoffereda large menuanda nice atmosphere. In linewith the increase incustomers,the restaurateuralsohave risensharply.
Evena common phenomenonsince thecrisis hit
Indonesiaismushroomingrestaurants,eitherpermanentorin atent. Increasedconsumer maynotevencomparable to theincrease in
the numberand types ofrestaurants.
These conditions require the
restaurateur to think about
strategies to get and retain customers (Dekimpe et al, 1997; Chan et al,
2001).
Keep customers in touch with customer satisfaction. Kotler (2000)
mentions
satisfaction is feeling happy or disappointed someone who comes from the
comparison between the impression of the performance (results) of a
product
with expectations. The dissatisfaction is a kind of step comparison
between the
results of the evaluation experience, can produce something that is
comfortable
spiritually, not just convenient because imagined or are supposed to.
Satisfied
or dissatisfied rupakan not his emotions but rather something the
evaluation of
emotions.
Research on consumers' satisfaction become a central topic in the world
of
market research and developing rapidly. The concept of thinking that
will lead
to greater customer satisfaction profit is that satisfied customers
would be
willing to pay more for the "product" is received and will be more
tolerant of price increases. This course will improve its margins and
customer
loyalty to the company. Satisfied consumers will buy the "product"
being sold by another company, as well as a "marketer" Effective Word
of mouth through the air-a positive tone (Ganesh et al, 2000).
This can help increase your sales and credibility of the company, but
keep in
mind that in fact increase market share is not for her as evidenced by
increased customer satisfaction, and even in many cases or cases that is
precisely kebali it, the greater the market share a corporation instead
consumers satisfaction decreases. Increased market share, at least to a
certain
extent, it can achieve economies of scale (usually companies achieve the
most
optimal titk). As a result, the company can provide "relatively
cheap" on consumers who became one of the factors of satisfaction: but
on
the other hand, the increased number of consumers or the expansion
segments can
lead to tu-runnya justified, service quality rikan. This concept is
crucial for
companies engaged in the services sector.
Customer satisfaction can also generate customer loyalty. Loya-litas
consumers
can generally be defined as loyalty to a person on a product, either
goods or
services. Consumer loyalty is a manifestation and continuation of
customer
satisfaction in using the facilities and services provided by the
company, as
well as to remain a customer of the company too call. Loyalty is
evidence that
consumers always be consumers, who have the power and the company's
positive
attitude.
Consumer loyalty to a particular brand of product or service depends on
several
factors, namely the size of the desire to move to a brand of goods or
services
of another, to the same time the quality, or the quality of service of
this
type of substitute goods or services, the risk of changes in costs due
to
substitute goods or services, and air change that level of satisfaction
derived
from the brand new compared to the previous experience of the brand ever
used.
Consumers in meeting the needs and desires, will buy the product with
the
brand. If the selected brand that consumers can satisfy their needs and
desires, then the consumer will have a memory that in the brand. In
these
circumstances the consumer loyalty will begin to emerge and flourish.
And
inasubsequentpurchase,
consumerswill choosethe productwith thebrand
thathas given himsatisfaction,
resulting in a repetitivepurchaseof thebrand.
METHODS Type ofresearch isdescriptiveandconclusiveresearch, which aimsto describethe attributesof customer satisfactionandloyaltyto the brand,
thendica-ri causal relationshipbetweenconsumer
satisfaction withloyalty tothe brand.
Variables Research and Development
The research variables are customer satisfaction and brand loyalty. The
attributes of customer satisfaction universally by Dutka (1994) is the
product
attributes, attributes that are associated with the service, and the
attributes
associated with the purchase. Product attributes include price-value
relationships, product quality, product benefits, product
characteristics,
product design, consistency and reliability, and a long-kauan products /
services.
The price-value relationship is a central factor in determining consumer
decision-asan. If the value gleaned beyond what consumers paid on-yar,
it is an
important basis for decision-asan consumers have been created. Product
quality
is the rating of the quality of a product. The benefits of a product
that can
benefit the consumer in using a product produced by a company and then
can be
used as the basis of positioning that differentiates the company from
other
companies.
Product characteristics are certain traits possessed by a product that
is
different from the products offered by competitors. Product design is a
process
to design the style and function of exciting and worthwhile. Reliability
and
consistency of the product is the accuracy and reliability of the
products
produced by the peru-sahaan a period of time and demonstrate delivery of
the
product at a particular performance level. The range of products /
services is
a kind of product / service la-ministry offered by the company.
Attributes related services include assurance or warranty, delivery,
handling
complaints, and problem resolution. Guarantees given by the company for
the
product can be returned if the performance of the product is
unsatisfactory.
Penghan the plains is the speed and accuracy of the process of
delivering
products and services that the company provides to the con-sumennya.
Consumers
of complaint handling should be done with the response by the management
company. Completion trouble is serious and the company's ability to
solve the
problems faced by consumers.
Attributes associated with the purchase include courtesy, concern,
consideration, friendliness of the employee in serving customers;
communication, which is the process of pe-nyampaian information by
employees of
the company to its customers; easy to obtain knowledge about the product
of
peru- sahaan; reputation of the company to influence the views of the
consumers
of the company that will reduce uncertainty and risk in purchasing
decisions,
and the ability of a company to realize a request made by the consumer
in
providing services.
According Tjiptono (1997), a technique for the measurement of customer
satisfaction measurement can be used directly with a question or a
statement
about how much expecting certain attributes of how much perceived.
Respondents assess the correspondence
between what
yangdiharapkan and what is obtained from the service of the company.
Loyalty is
measured against his brand through the wisdom of behavioral despair,
switching
costs, satisfaction, and commitment.
Population, Sample and Questionnaire Development
This study population is the whole restaurant consumers who live in
Depok.
Questionnaires distributed to visitors of one fast food restaurant
located at
Jalan Margonda Kingdom Depok. Random selection of respondents and the
amount is
determined based on the concept of moderation. Questionnaires were
developed
based on the attributes of decision-asan consumer and customer loyalty
in the
form of closed questions. Scale is a measurement performed Likert scale
(measured
in a 5 point scale from 1 = strongly disagree, 2 = disagree, 3 =
neutral, 4 =
agree, 5 = strongly agree.
RESULTS
AND DISCUSSION
Description Customer Satisfaction The questionnaire distributed to 100
respondents succeeded
in one of the restaurants. Indicators of consumer satisfaction consists
of
price, quality, reliability, security, the speed, willingness, ability,
keso-storage services, delivery, ease, reputa-si, and demand. Brand
loyalty was
measured using behavioral attributes of regular switching cost, likes me
rek,
and commitment. Test models of the effect of customer satisfaction on
brand
loyalty can be seen in Table 1. Significant test of 0000. Significance
value is
much smaller in comparison real level test (α) 0.05 and even 0.01. These
results indicate that the model influence customer satisfaction with
loyalty to
them is acceptable.
The coefficient of determination (R2) a large 52.03%, which means the
ability
of the consumer decision-asan in explaining ape-Gaman of brand loyalty
in the
model by 52.03%. This contribution is quite large. Other factors, in
addition
to customer satisfaction can influence brand loyalty by 47.97%.
Output of multiple regression analysis in order to see the effect of
customer
satisfaction on brand loyalty can be seen in Table 2. Va-independent
riabel are
consumers of satisfaction, which consists of product attributes (X1),
the
attributes associated with the service of (X2), and the attributes
associated
with the purchase (X3). The dependent variable is the loyalty to the
brand (Y).
Tabel 1. Analisis Ragam Sumber
Jumlah kuadrat
db
Kuadrat tengah
F
Sig.
Regression
15.824
3
5.275
34.704
.000
Residual
14.588
96
0.152
Total
30.411
99
Tabel 2. Data Model Regresi
dan Uji
Koefisien Regresi Model
Y
Koefisien tdk standar B
Std.error
Koefisien standar Beta
t
Sig.
(Constant)
.733
.129
5.690
.000
X1
.207
.053
.302
3.902
.000
X2
.263
.056
.370
4.664
.000
X3
.265
.048
.375
5.473
.000
The
coefficient for 0207 product attributes, the attributes associated with
the
service of 0263, and the attributes associated with the purchase of
0265.
Regression model the effect of customer satisfaction on brand loyalty
shown
Equation (1).
Attributes associated with the service affects brand loyalty is
significantly
and positively. Each of the Rev a 1 unit attributes are associated with
the
service, can increase brand loyalty for 0263. Management thus per-lu
watch
service reliability, ja-dominant service delivery, speed of service,
willingness to answer questions and complaints, the ability to serve
well,
courtesy of employees, and the pe-nyampaian infromasi order,
convenience, and
reputation.
Y = .733 + .207 X1 + .263 X2 + .265 X3 (1)
Attributes associated with purchasing influence brand loyalty is also
positive
and significant. Any increase atriut associated with the purchase of the
91
units, will increase brand loyalty for 0265. These results are
consistent with
previous theory (Reichheld and Sasser, 1990; Reichheld, 1993; Sheth and
Parvatiyar, 1995; Bearden and Teel, 1983; LaBarbera and Mazursky, 1983;
Kasper,
1988; Bloemer and Lemmink, 1992, Cronin and Taylor, 1992 ; Fornell,
1992;
Oliva, et al, 1992; Anderson and Sullivan, 1993; Bloemer and Kasper,
1993,
1995; Boulding, et al, 1993; Oliver, 1999).
Constant values for 0733, meaning that
every unit
increase in other factors (other than customer satisfaction) will
increase
their loyalty towards for 0733. The increase in other factors, such as
business
performance (Reichheld and Sasser, 1990; Reichheld, 1993; Sheth and
Parvatiyar,
1995), switching costs (Bearden and Teel, 1983; LaBarbera and Mazursky,
1983;
Kasper, 1988; Bloemer and Lemmink, 1992; Cronin and Taylor, 1992;
Fornell,
1992; Oliva, Oliver, MacMillan, 1992, Anderson and Sullivan, 1993;
Bloemer and
Kasper, 1993, 1995; Boulding, Kalra, Staelin, Zeithaml, 1993; Oliver,
1999).
Regression coefficient for 0207 product attributes, meaning loyal unit
increase
in use within the management bias do on these attributes, brand loyalty
will
increase by 0207. These results are consistent with previous studies
showing
the effect of quality on brand loyalty (Reichheld and Sasser, 1990;
Reichheld,
1993; Sheth and Parvatiyar, 1995; Bearden and Teel, 1983; LaBarbera and
Mazursky, 1983; Kasper, 1988; Bloemer and Lemmink , 1992; Cronin and
Taylor,
1992; Fornell, 1992; Oliva, et al., 1992, Anderson and Sullivan, 1993;
Bloemer
and Kasper, 1993, 1995; Boulding, et al, 1993; Oliver, 1999).
Brand loyalty is formed through a process of learning, which is a
process by
which consumers through his experiences trying to find the most
appropriate
brand for him, in the sense of the product of the brand can give
satisfaction
to the expectations and needs. Consumers are continuously trying
different
brands before finding a brand that really fits. Customer satisfaction
will
remain a very important part in brand loyalty. Brand loyalty is usually
me
ngakibatkan repeat purchases and purchase recommendation. If consumers
are
satisfied with the performance of a brand that will continue to buy the
brand,
using it even tells the other people of the advantages these brand
consumers of
experience in using the brand.
If
consumers aresatisfied withacertain
brandandoften buythe product, it can be saidthe level ofbrand loyaltyis high, otherwise ifconsumers
are not toosatisfied withaparticular brandand tendtobuybrandedproducts withvaryingthe
level ofbrandloyaltyagainstlower. Satisfaction
ofconsumersneeds to
be
maintainedand improvedin order
tocreateandmaintainbrand loyalty. Whenconsumers getsatisfactionfromthe buyerfor
a productthen it willcreate
a
positive attitudetowardthe
brandso thatconsumerswillmake a purchase. Loyaltycan be achievedin twostages,the
company musthave theability
to
givesatisfaction to thecustomersso thatcustomers haveapositiveexperience,
then re-prioritized the
purchaseprior sale. Second,
peru-sahaan must havea wayto maintainrelationshipswithcustomersfurtherby doingaforcedloyaltystrategiesfor customersto make purchasesagain(Kotler 2001).
CONCLUSION The results of this study conclude that:
(1) satisfaction of
consumers of the product described by attributes, the attributes of the
service, and with the purchase attributes berhubugnan to affect brand
loyalty
is strong, (2) customer satisfaction for some attributes still have
variations
high grading, and (3) there is the influence of the significant positive
association
between customer satisfaction with loyalty to the brand.
REFERENCES
Anderson, E.W. and
Sullivan, M. 1993 “The
antecedents and consequences of consumer satisfaction for firms”
Marketing Science vol 12 Spring pp
125-43.
Bearden, W.O. and Teel,
J.E. 1983
“Selected determinants of consumer satisfaction and complaint reports”
Journal of Marketing Research vol 20
February pp 21-8.
Bloemer, J.M. and Kasper,
H. 1993 “Brand
loyalty and brand satisfaction: the case of buying audio cassettes anew
in The
Netherlands” in Proceeding of the 22nd
European AcademyConference Barcelona.
Bloemer, J.M. and Kasper,
H. 1995 “The
complex relationship between consumer satisfaction and brand loyalty”
Journal of Economic Psychology vol 16
pp 11-29.
Bloemer, J.M. and Lemmink,
J.G. 1992 “The
importance of customer satisfaction in explaining brand and dealer
loyalty” Journal of Marketing Management vol 8
pp 351-64.
Boulding, W., Kalra, A.,
Staelin, R. and
Zeithaml, V.A. 1993 “A dynamic process model of service quality: from
expectations to behavioral intentions” Journal
of Marketing Research vol 30 February pp 7-27.
Chan, M., Lau, L., Lui, T.,
Ng, S., Tam,
E. and Tong, E. 2001 “Final report: customer relationship management”
Customer Relationship Management Consortium
Study Asian Benchmarking Clearing House Hongkong.
Chaudhuri, A. and Holbrook,
M.B. 2001 “The
chain effects from brand trust and brand affect to brand performance:
the role
of brand loyalty” Journal of Marketing
vol 65 April pp. 31-93.
Cody, K. and Hope, B. 1999
“EX-SERVQUAL:
an instrument to measure service quality of extranets” Proceedings of
the 10th Australasian Conference on Information Systems Wellington
1-3 December pp 207. Cronin, J.J. Jr and Taylor, S.A. 1992 “Measuring
service
quality: a reexamination and extension” Journal
of Marketing vol 56 pp 55-68.
Dekimpe, M.G., Steenkamp,
J.-B.E.M.,
Mellens, M. and Abeele, P.V. 1997 “Decline and variability in brand
loyalty” International Journal of Research in
Marketing vol 14 pp 405-20.
Dutka, A. 1994 AMA Hand
Book for Customer Satisfaction NTC Business Book
Lincolnwood Illinois.
Fandy, T. 1997 Total
Quality Service Gramedia Yogyakarta.
Fornell, C. 1992 “National
satisfaction
barometer: the Swedish experience” Journal
of Marketing vol 56 January pp 6-21.
Ganesh, J., Arnold, M.J.
and Reynolds,
K.E. 2000 “Understanding the customer base of serviceproviders: an
examination
of the differences between switchers and stayers” Journal of Marketing
vol 64 pp 65-87.
Hair, J. 1998 Multivarite
Analysis with Reading Prentice Hall New York.
Kasper, J.D. 1988 “On
problem perception,
dissatisfaction and brand loyalty” Journal of Economic Psychology vol 9
pp 387-97.
Kotler, P. 2000 Marketing
Management :Analysis,
Planing, Implementation and Control Prentice Hall Int Inc Millenium
Edition, Englewood Cliffs New Jersey.
Kotler, P., and Gary, A.
2001 Principles of Marketing Prentice Hall
Int Inc ninth Edition Englewood Cliffs New Jersey.
LaBarbera, P.A. and
Mazursky, D. 1983 “A
longitudinal assesment of consumer satisfaction/dissatisfaction” Journal
of Marketing Research vol 20
November pp 393-404.
Oliver, R. L. 1999 “Whence
Consumer
Loyality?” Journal of Marketing vol
63.
Oliva, T.A., Oliver, R.L.
and MacMillan, I.C.
1992 “A catastrophe model for developing services satisfaction
strategies” Journal of Marketing vol 56 July pp
83-95.
Oliver, R.L. 1999 “Whence
consumer
loyalty?” Journal of Marketing vol
63 October pp 33-44.
Reichheld, F. 1993
“Loyalty-based management”
Harvard Business Review March-April
pp 64-73.
Reichheld, F. and Sasser,
W.E. 1990 “Zero
defections: quality comes to service”, Harvard
Business Review September-October pp 105-11.
Sheth, J. and Parvatiyar,
A. 1995
“Relationship marketing in consumer markets: antecedents and
consequences” Journal of the Academy of Marketing Science vol
23 no 4 pp 255-71.
Zeithml, V.A., Parasuraman and Leonard,
L.B. 1990 Delivering Quality Service: Balancing
Customer Perception and Expactation The Free Press New York .
-->
Review
Modern
societyis characterized byhigh workingactivityandtheopportunity tobe ableto workfor anyonewhohas thecompetencewithout discrimination. These
activitieshave an impact ontheba-nyaknya careerworking womenorspendtime outdoors, so thatdifficultiesin performingactivities as ahousewifeincluding thesupplyof
foodforthe family.
Family group withenougheconomytend to choose foodsoutsidetherestaurant,
besidestastedelicioustoomuchonceoffereda large menuanda nice atmosphere. In linewith the increase incustomers,the restaurateuralsohave risensharply.
Evena common phenomenonsince thecrisis hit
Indonesiaismushroomingrestaurants,eitherpermanentorin atent. Increasedconsumer maynotevencomparable to theincrease in
the numberand types ofrestaurants.
The results of this study conclude
that: (1) satisfaction of consumers of the product described by
attributes, the
attributes of the service, and with the purchase attributes berhubugnan
to
affect brand loyalty is strong, (2) customer satisfaction for some
attributes
still have variations high grading, and (3) there is the influence of
the
significant positive association between customer satisfaction with
loyalty to
the brand.
sumber : http://niabedok.blogspot.com/2012/12/review-jurnal-perilaku-konsumen-bhsa.html